KAJIAN HISTORIS SEBAGAI PENDEKATAN DALAM KAJIAN KEISLAMAN

 1. PENDEKATAN HISTORIS

Pendekatan historis merupakan penelaahan serta sumber-sumber lain yang berisi informasi mengenai masa lampau secara sistematis, bahwa pendekatan historis dalam kajian islam adalah usaha sadar dan sistematis untuk mengetahui dan memahami serta membahas secara mendalam tentang seluk-beluk atau hal-hal yang berhubungan dengan agama Islam, baik berhubungan dengan ajaran, sejarah maupun praktik-praktik pelaksanaannya secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. 

Pendekatan kesejarahan sangat dibutuhkan dalam studi Islam, karena Islam datang kepada seluruh manusia dalam situasi yang berkaitan dengan kondisi sosial kemasyarakatannya masing-masing. Yaitu bagaimana melakukan pengkajian terhadap berbagai studi keislaman dengan menggunakan pendekatan histories sebagai salah satu alat (metodologi) untuk menyatakan kebenaran dari objek kajian itu. Pentingnya pendekatan ini, mengingat karena rata-rata disiplin keilmuan dalam Islam tidak terlepas dari berbagai peristiwa atau sejarah. Baik yang berhubungan dengan waktu, tempat dan format peristiwa yang terjadi. Melalui pendekatan sejarah seseorang diajak untuk memasuki keadaan yang sebenarnya berkenaan dengan penerapan suatu peristiwa. Dari sini, maka seseorang tidak akan memahami agama keluar dari konteks historisnya, karena pemahaman yang keluar dari konteks historis akan dapat menyesatkan. 

Seseorang yang ingin memahami Al-Qur’an secara benar misalnya, harus memahami sejarah turunnya Al- Qur’an atau kejadian-kejadian yang mengiringi turunnya Al-Qur’an yang selanjutnya disebut dengan ilmu asbab al-nuzul. Dengan ilmu ini seseorang akan dapat mengetahui hikmah yang terkadung dalam suatu ayat yang berkenaan dengan hukum tertentu, dan ditujukan untuk memelihara syari’at dari kekeliruan memahaminya. 

Tujuan pendekatan historis ini diharapkan seseorang mampu memahami nilai sejarah Islam. Sehingga terbentuk manusia yang sadar akan historisitas keberadaan islam dan mampu memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Hal ini akan lebih membuka tabir kedinamisan dalam mengamalkan ajaran murni ini dalam kehidupan yang lebih layak sesuai dengan kehendak syara’, mengingat pendekatan historis memiliki cara tersendiri dalam melihat masa lalu guna menata masa sekarang dan akan datang.

Salah satu contoh pendekatan historis dapat dilakukan pada fenomena orang mabuk saat shalat. Terdapat landasan normatif dalam Al-Quran “janganlah kamu mendekati shalat, sedang kamu mabuk”. Melalui teks tersebut terdapat makna bahwa jika seseorang sedang mabuk janganlah ia shalat hingga ia sadar. Namun juga berkesan bahwa di luar shalat boleh mabuk. Jelas keliru! Ayat tersebut mesti dipahami melalui pendekatan historis asbabun nuzul-nya. Ayat itu merupakan rangkaian pengharaman khamr. Awalnya khamr hanya disebutkan banyak madharatnya saja dibanding dengan manfaatnya. Lalu dipertegas oleh ayat di atas bahwa janganlah shalat ketika mabuk dan diakhiri dengan pengharaman khamr di ayat lain. Maka, dengan pendekatan historis ayat, tidak akan ada misinterpretasi makna dalam memahami sebuah ayat. 

2. STUDI ISLAM MASA KLASIK

Menurut Prof. Dr. Nasution, sejarah Islam secara umum dibagi menjadi tiga bagian besar yaitu  Periode klasik, yang dimulai (650-1250 M) yang digambarkan sebagai era umat Islam mencapai prestasi-prestasi (puncak kejayaan). Periode pertengahan dimulai sejak runtuhnya Dinasti Abbasiyah (1250-1800 M), dengan ciri-ciri kekuasaan politik terpecah-pecah dan saling bermusuhan, atau dikenal dengan masa stagnasi pemikiran Islam. Dan periode modern (1800 sampai sekarang) yang dikenal dengan era kebangkitan Islam.

Pada periode klasik (650-1250 M), Islam mengalami dua fase penting :

A. Fase ekspansi, integrasi, dan puncak kemajuan (650-1000 M). 

Pada fase inilah Islam di bawah kepemimpinan para khalifah mengalami perluasan pengaruh yang sangat signifikan, ke arah barat melalui Afrika Utara Islam mencapai Spanyol dan ke arah Timur melalui Persia, Islam sampai ke India. 

B. Fase disintegrasi (1000-1250 M)

Fase ini ditandai dengan perpecahan dan kemunduran politik umat Islam hingga berpuncak pada terenggutnya Baghdad oleh bala tentara Hulagu di tahun 1258 M. 

A. Perkembangan Negara Islam Masa Klasik Fase I (650-1000 M)

Periode klasik fase pertama dikenal sebagai masa ekspansi dan integrasi Islam. Masa ini sesungguhnya telah dimulai sejak kepemimpinan Rasulullah SAW sampai dengan pertengahan Dinasti Abbasiyah pada tahun 1000 M. Dikatakan masa ekspansi, karena sebelum Rasulullah wafat tahun 632 M, seluruh semenanjung Arabia telah tunduk di bawah kekuasaan Islam dan ekspansi ke daerah-daerah di luar Arabia pada zaman Khalifah pertama, Abu Bakar As-Siddiq. Beberapa catatan penting tentang perkembangan Negara Islam pada masa klasik fase pertama ini adalah : 

1. Perkembangan Islam Masa Rasulullah 

a. Lahirnya Negara Madinah

b. Perluasan Wilayah pada Masa Rasulullah

Perkembangan wilayah Negara Islam dapat dibagi menjadi beberapa fase yaitu :

Fase pertama, yaitu sejak Rajab 1 H sampai Rajab 2 H. Pada fase ini, kekuasaan Nabi menjadi sempurna atas seluruh bagian kota Madinah dan sekitarnya. Pada masa ini, Nabi mengirim sepuluh ekspedisi, baik ghazwah (ekspedisi militer yang di pimpim Nabi Saw) maupun syariyah (ekspedisi militer yang di pimpim sahabat).

Fase kedua, yaitu mulai dari perang Badar sampai Perang Khandaq berakhir (17 Ramadhan 2H/13 Maret 624 M-Dzulqa’dah 5H/April 627 M). Pada fase ini, Madinah menetapkan kekuasaannya atas seluruh tanah Hijaz (kecuali Mekkah dan Thaif). Pada masa ini kelompok-kelompok besar Yahudi di Madinah yang berkhianat terusir atau dihukum berat, sehingga Negara Madinah menjadi kekuatan politik dan militer terbesar di Hijaz dan sekitar Najd.

Fase ketiga, yaitu mulai Muharam 6 H sampai Jumadil Akhir 6 H (Juni 627 M - November 628 M). Pada fase ini Negara Madinah berhasil menggabungkan seluruh daerah di perbatasan Najd dengan Madinah. Ini berarti menambah wilayah Islam seluas 40 mil persegi di sebelah timur, yang membuka jalan untuk peluasan wilayah kekuasaan lebih lanjut ke arah Najd sehingga Quraisy Mekkah menjadi terkepung.

Fase keempat, yaitu mulai ekspedisi ke Hasma sampai dilaksanakannya ‘Umrah Al-Qadha ‘umrah setahun setelah perjanjian Hudaibiyah, (Jumadil akhir 6H/November 628 M–Dzulqadah 7 H/ Maret 629 M). Pada fase ini, ekspedisi Islam mengarah ke Utara Madinah, mencapai Wadi Al-Qura dan Daumat al-Jandal, sehingga umat Islam dapat menguasai Khaibar, Fadak, dan Wadi Al-Quran.

Fase kelima, yaitu dari Dzulhijah 7 H sampai penaklukan Thaif, DzulQaidah 8 H (April 629 M-Februari 630 M). Peristiwa penting yang termasuk dalam fase ini adalah penaklukan kota Mekkah.

B. Islam Pada Masa Khulafaurrasyidin (632-661 M)

Setelah Rasulullah wafat pada tahun 632 M, umat muslim dihadapkan kepada suatu krisis konstitusional. Rasul tidak menunjuk penggantinya. Sejumlah suku melepaskan diri dari kekuasaan Madinah dan menolak memberi penghormatan kepada khalifah yang baru. Sebagian dari mereka bahkan menolak Islam. Ada golongan yang telah murtad, ada yang mengaku dirinya sebagai nabi. Ada juga golongan yang tidak mau lagi membayar zakat karena mengira zakat sebagai upeti kepada Nabi Muhammad SAW. Yang masih tetap patuh kepada agama Islam adalah penduduk Mekkah, Madinah, dan Thaif. Setelah Rasulullah meninggal dunia, beliau digantikan oleh keempat orang sahabat terdekat, yakni Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali. Mereka kemudian dikenal dengan Khulafa’ al-Rasyidin, berarti para khalifah yang mendapat petunjuk dari Allah. Disebut demikian karena dibanding dengan rata-rata khalifah setelahnya, mereka masih konsisten menjaga apa yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah berupa akhlak dan petunjuk-petunjuk Allah khususnya dalam menjalankan kekhalifahannya.

1. Islam Masa Khalifah Abu Bakar Sidiq (632-634 M)

Abu bakar menjadi khalifah pertama yang menggantikan Rasulullah melalui musyawarah di balai Tsaqifah Bani Sa’idah, tokoh dari kaum muhajirin dan anshar yang kemudian membaiatnya. Abu Bakar menjadi khalifah hanya dua tahun. Masa sesingkat itu habis untuk menyelesaikan persoalan dalam negeri terutama tantangan yang ditimbulkan oleh suku-suku bangsa Arab yang tidak mau tunduk kepada pemerintah Madinah, mereka menganggap bahwa perjanjian yang dibuat dengan Nabi Muhammad, dengan sendirinya batal setelah Nabi wafat. Karena sikap keras dan menentang pemerintahan, Abu bakar menyelesaikan persoalan ini dengan perang Riddah (perang melawan kemurtadan). Adapun sistem politik Islam masa Abu Bakar bersifat sentralistis sebagaimana yang diterapkan Nabi. Jadi kekuasaan legislatif, eksekutif dan yudikatif terpusat di tangan Khalifah. Meskipun demikian, dalam memutuskan suatu masalah, Abu Bakar selalu mengajak para sahabat untuk bermusyawarah.

Kebijakan di bidang pemerintahan

a. Pemerintahan Berdasarkan Musyawarah

b. Amanat Baitul Mal

c. Konsep Pemerintahan (sentralistik dan merakyat)

d. Kekuasaan Undang-undang

2.  Islam Masa Khalifah Umar Bin Khattab (634-644 M)

Ketika Abu Bakar sakit dan merasa dekat dengan ajalnya, Abu Bakar bermusyawarah dengan para pemuka sahabat, kemudian mengangkat Umar sebagai penggantinya. Di zaman Umar gelombang ekspansi pertama terjadi, sehingga kekuasaan Islam sudah meliputi jazirah Arabia, Palestina, (Syria, Damaskus ditaklukkkan tahun 635 M), Mesir dan ibukotanya Iskandaria (641 M) sebagian besar wilayah dan ibu kota Persia dan Mesir. Dengan demikian masa kepemimpinan Umar, wilayah kekuasaan Islam sudah meliputi jazirah Arabia, Palestina, Syiria, sebagian wilayah Persia dan Mesir. Di masa Umar, persoalan umat Islam semakin komplek, berbagai pertimbangan terhadap situasi dan realitas umat menuntut Umar menafsirkan kembali aturan yang sudah berlaku sebelumnya. Pada masa pemerintahannya, Umar telah membentuk lembaga-lembaga yang disebut juga dengan ahlul hall wal aqdi, diantaranya adalah : Majelis Syura (Dewan Penasehat), Al-Katib (Sekretaris Negara), Nidzamul Mal (Departemen Keuangan), dll. 

Pada masa Umar, badan-badan tersebut belum terbentuk secara resmi, tapi telah dijalankan tugas-tugas badan tersebut. Namun, dalam menjalankan pemerintahannya, Umar senantiasa mengajak musyawarah para sahabat. Umar memerintah selama sepuluh tahun (13-23 H/634-644 M). Masa jabatannya berakhir dengan kematian. Ia dibunuh oleh seorang budak Al lu’luah. Untuk menentukan penggantinya, Umar tidak menempuh jalan seperti yang dilakukan oleh Abu Bakar. Dia menunjuk enam orang sahabat yaitu Usman, Ali, Thalhah bin Zubair, Saad bin abi Waqas dan Abdurrahman bin Auf untuk bermusyawarah sehingga terpilihlah Usman sebagai khalifah ke III.

3. Islam Masa Khalifah Usman Bin Affan (644-656M)

Pemerintahan Usman berlangsung selama 12 tahun. Pemerintahan Utsman dibagi menjadi dua periode, yaitu periode kemajuan dan periode kemunduran. Pada periode kemajuan, pemerintahan Utsman mengalami kemajuan yang sangat luar biasa. Peta Islam semakin meluas. Masa pemerintahan Usman (644-655 M), berhenti sampai disini. Kepemimpinan Usman berbeda dengan kepemimpinan Umar, ini mungkin karena umurnya yang lanjut (diangkat dalam usia 70 tahun) dan sifatnya yang lemah lembut.

Selain itu, Utsman berhasil membentuk armada laut dengan kapalnya yang kokoh dan menghalau serangan-serangan di Laut Tengah yang dilancarkan oleh tentara Bizantium. Usman berjasa membangun bendungan, ia juga membangun jalan dan jembatan, membangun masjid dan memperluas masjid Nabi di Madinah. 

Namun, periode kemunduran kekuasaannya ditandai terjadinya huru-hara sampai akhir hayatnya. Salah satu penyebabnya adalah rakyat kecewa karena kebijakan Usman, yang mengangkat keluarga dalam kedudukan tinggi, seperti Marwah bin Hakam. Beliaulah yang sesungguhnya menjalankan pemerintahan, sedangkan Utsman hanya menyandang gelar khalifah.

4. Islam pada Masa Ali bin Abi Thalib (656 – 661 M)

Setelah Usman wafat, masyarakat beramai-ramai membaiat Ali. Ali memerintah hanya enam tahun. Selama pemerintahannya, ia menghadapi berbagai pergolakan. Pemberontakan terjadi karena para gubernur yang diangkat oleh Usman, dipecat oleh Ali. Ali juga menghadapi pemberontakan Thalhah, Zubair, dan Aisyah. Karena Ali tidak mau menghukum pembunuh Usman. Bersamaan dengan itu, kebijakan Ali juga mengakibatkan timbulnya perlawanan dari gubernur di Damaskus, yang didukung oleh sejumlah bekas pejabat tinggi yang merasa kehilangan kedudukan dan kejayaan. Akhirnya pasukan Ali bertemu dengan pasukan Mu’awiyah di Shiffin (perang Shiffin), yang diakhiri dengan tahkim. Tapi tahkim tidak menyelesaikan masalah sehingga muncul golongan yang keluar dari barisan Ali (Khawarij) dan Ali dibunuh oleh salah satu anggota khawarij ini.

5. Perkembangan Negara Islam pada masa Bani Umayyah (661-750 M)

Memasuki masa kekuasaan Muawiyah yang menjadi awal kekuasaan Bani Umayyah. Pemerintahan yang bersifat demokratis berubah menjadi monarchiheridetis (kerajaan turun temurun). Kekahalifahan Bani Umayyah diperoleh melalui kekerasan, diplomasi dan tipu daya, tidak dengan pemilihan atau suara terbanyak. Kepemimpinan ini dimulai ketika Mu’awiyah mewajibkan seluruh rakyatnya untuk menyatakan setia terhadap anaknya, Yazid. Mu’awiyah bermaksud mencontoh monarchi di Persia dan Byzantium. Kekuasaan Bani Umayyah berumur kurang lebih 90 tahun. Ibu kota negara dipindahkan dari Madinah ke Damaskus, tempat ia berkuasa sebagai gubernur sebelumnya. Khalifah-khalifah besar Dinasti Bani Umayyah ini adalah Mu’awiyah ibn Abi Sufyan, Abd al-Malik ibn Marwan, al-Walid ibn Abdul Malik, Umar ibn Abdul Aziz, dan Hasyim ibn Abdul al-Malik.

Kemajuan-Kemajuan yang Dicapai :

A. Bani Umayyah berhasil memperluas daerah kekuasaan Islam ke berbagai penjuru dunia, seperti Spanyol, Afrika Utara, Suria, Palestina, Semenanjung Arabia, Irak, sebagian kecil Asia, Persia, Afghanistan, Pakistan, Rukhmenia, Uzbekistan, dan Kirgis.

B. Islam memberikan pengaruh bagi kehidupan masyarakat luas. Sikap fanatik Arab sangat efektif dalam membangun bangsa Arab yang besar.

C. Telah berkembang ilmu pengetahuan secara tersendiri dengan masing-masing tokoh spesialisnya. Antara lain, dalam Ilmu Qiro’at (7 qiro’at) yang terkenal yaitu: Ibnu katsir (120 H), Ashim (127 H), dan Ibnu Amr (118 H).

D. Perkembangan dalam hal administrasi ketatanegaraan, seperti adanya Lembaga Peradilan (Qadha), Kitabat, Hajib, Barid, dan sebagainya.

6. Perkembangan Negara Islam masa Khilafah Bani Abbas I (750-1000 M)

Kekuasaan dinasti Bani Abbas, atau Khilafah Abbasiyah, sebagaimana disebutkan untuk melanjutkan kekuasaan dinasti Bani Umayyah. Dinamakan khilafah Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan al-Abbas paman Nabi Muhammad. Dinasti Abbasiyah didirikan oleh Abdullah al-Shaffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abbas. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang dari tahun 132 H (750 M) s.d. 656 H (1258 M). Selama dinasti ini berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial dan budaya.

Pada periode pertama pemerintahan Bani Abbas mencapai masa keemasannya. Secara politis, para khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Pada mulanya ibukota negara adalah al-Hasyimiyah, dekat Kufah. Namun, untuk lebih memantapkan dan menjaga stabilitas negara yang baru berdiri itu, al-Mansyur memindahkan ibukota negara ke kota yang baru dibangunnya yaitu Baghdad, dekat bekas ibukota Persia, Ctesiphon, tahun 762 M.

Masa ini juga ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan (di bidang agama maupun non agama) dan kebudayaan. Dalam bidang hukum dikenal para imam mazhab seperti Malik, Abu Hanifah, Syafi’I dan Ibn Hambal. Di bidang teologi dikenal tokoh-tokoh, seperti Abu Hasan al-Asy’ari, al-Maturidi, Wasil Ibn Atha’ al-Mu’tazili, Abu al-Huzail, al-Nazzam dan al-Juba’i. dibidang ketasawufan dikenal Dzunnun al-Misri, Abu Yazid al-Bustami, al-Hallaj dan lainnya lagi. Sementara dalam bidang filsafat dan Ilmu Pengetahuan, kita mengenal al-Kindi, al-Farabi, Ibn Sina, Ibn Maskawih, Ibn al-Haytsam, Ibn Hayyan, al-Khawarizmi, al-Mas’udi dan al-Razi.

Demikianlah kemajuan politik dan kebudayaan yang pernah dicapai oleh pemerintahan Islam pada masa klasik, kemajuannya yang tidak ada tandingannya di kala itu. Pada masa ini, kemajuan politik berjalan seiring dengan kemajuan peradaban dan kebudayaan, sehingga Islam mencapai masa keemasan. Kejayaan dan kegemilangan. Masa keemasan ini mencapai puncaknya terutama pada masa kekuasaan Bani Abbas periode pertama, Namun sayang, setelah periode ini berakhir, Islam mengalami masa kemunduran.

C. Perkembangan Negara Islam Fase Disintegrasi (1000-1250 M)

Masa disintegrasi dalam bidang politik sebenarnya telah mulai terjadi pada akhir zaman Bani Umayyah, tetapi memuncak di masa Bani Abbasiyah. Wilayah kekuasaan Bani Umayyah, dari awal berdirinya sampai masa keruntuhannya, sejajar dengan batas-batas wilayah kekuasaan Islam. Hal ini berbeda dengan masa pemerintahan Bani Abbas. Kekuasaan dinasti ini tidak pernah diakui di Spanyol dan seluruh Afrika Utara, kecuali Mesir. Secara riil, daerah-daerah itu berada dibawah kekuasaan gubernur-gubernur provinsi bersangkutan. Hubungannya dengan khalifah ditandai dengan pembayaran upeti.

Pada masa pemerintahan Bani Abbas, tidak ada usaha untuk merebut jabatan khilafah dari tangan Bani Abbas. Rakyat membiarkan jabatan khalifah tetap dipegang Bani Abbas. Hal ini terjadi karena khalifah sudah dianggap sebagai jabatan keagamaan yang sakral dan tidak bisa diganggu gugat lagi. Sedangkan kekuasaan dapat didirikan di pusat maupun di daerah yang jauh dari pusat pemerintahan dalam bentuk dinasti-dinasti kecil yang merdeka. Ada kemungkinan bahwa para khalifah Abbasiyah sudah cukup puas dengan pengakuan dari provinsi-provinsi tertentu, dengan pembayaran upeti itu.

Akibat dari kebijaksanaan yang lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada persoalan politik itu, provinsi-provinsi tertentu di pinggiran mulai lepas dari genggaman penguasa Bani Abbas. Kecuali Bani Umayyah di Spanyol dan Idrisiyyah di Marokko, provinsi-provinsi itu pada mulanya tetap patuh membayar upeti selama mereka menyaksikan Baghdad stabil dan khalifah mampu mengatasi pergolakan-pergolakan yang muncul. Namun pada saat wibawa khalifah sudah memudar, mereka melepaskan diri dari kekuasaan Baghdad. Dinasti-dinasti yang lahir dan melepaskan diri dari kekuasaan Baghdad pada masa khilafah Abbasiyah, diantaranya terdiri dari bangsa Persia, Turki, Kurdi, dan Arab.

Mendekati masa akhir kekuasaan Abbasiyah, tentara Turki berhasil merebut kekuasaan khalifah, sehingga khalifah bagaikan boneka yang tidak dapat berbuat apa-apa. Selanjutnya kekuasaan Abbasiyah dikuasai oleh Bani Buwaih. Bani Abbasiyah tetap diakui, tetapi kekuasaan dipegang oleh sultan-sultan Buwaihi. Kekuasaan dinasti Buwaihi atas Baghdad kemudian dirampas oleh Dinasti Seljuk. Seljuk adalah seorang pemuka suku bangsa Turki yang berasal dari Turkestan.

Kekuasaan dinasti saljuk, memicu terjadinya perang salib dalam beberapa tahap, yang menyebabkan semakin melemahnya kekuasaan Islam, ditambah lagi serangan tentara Mongolia yang bersekutu dengan gereja-gereja kristen, sehingga menghancurkan pusat-pusat kekusaan Islam, sampai jatuhnya Baghdad ke tangan Khulagu Kan.

3. STUDI ISLAM MASA PERTENGAHAN

Kemunduran Islam pada abad pertengahan, pada umumnya yang menjadi penyebab diantaranya adalah sebagai berikut:

a. Tidak menjaga dengan baik Wilayah kekuasaan yang luas

b. Penduduknya sangat heteregin sehingga mengalami kendala dalam penyatuan

c. Para penguasanya lemah dalam kepemimpinannya

d. Krisis ekonomi

e. Dekadensi moral yang tidak terkendali

f. Apatis dan stagnasi dalam dunia iptek

A.Konflik antar kerajaan Islam

Terlebih lagi setelah, pasukan Mughal yang dipimpin oleh Hulagu Khan berhasil membumihanguskan Baghdad yang merupakan pusat kebudayaan dan peradaban Islam yang kaya dengan ilmu pengetahuan, hal ini terjadi pada tahun 1258 M. Saat itu kekhalifahannya dipimpin oleh khalifah Al Mu’tashim, penguasa terakhir Bani Abbas di Baghdad.

Setelah Baghdad ditaklukkan Hulagu, umat islam dikuasai oleh Hulagu Khan yang beragama Syamanism tersebut, kekuatan politikIslam mengalami kemunduran yang sangat luar biasa. Wilayah kekuasaannya terpecah-pecah dalam beberapa kerajaan kecil yang tidak bisa bersatu, satu dan lainnya saling memerangi. Peninggalan-peninggalan budaya dan peradaban Islam hancur ditambah lagi kehancurannya setelahdiserang oleh pasukan yang dipimpin oleh Timur Lenk.

B. Masa Tiga Kerajaan Besar (1500-1800)

Keadaan perkembangan Islam secara keseluruhan baru mengalami kemajuan kembali walaupun tidak sebanding dengan masa sebelumnya ( klasik) setelah berkembangnya tiga kerajaan besar yaitu kerajaan Usmani di Turki, kerajaan Mughal di India dan kerajaan Safawi di Persia. Diantara ketiga kerajaan tersebut yang terbesar dan paling lama bertahan adalah kerajaan Usmani.

a. Kerajaan Usmani

Kerajaan Utsmani didirikan oleh bangsa Turki dari kabilah Oghuz yang mendiami daerah Mongol dan daerah utara negeri Cina yang bernama Usmani atau Usmani Idan memproklamirkan diri sebagai Padisyah al Usman atau raja besar keluarga Usman tahun 1300 M (699 H). Kerajaan yang didirikan oleh Usmani ini selanjutnya memperluas wilayahnya ke bagian Benua Eropa. Ia menyerang daerah perbatasan Bizantium dan menaklukkan kota Broessa tahun 1317 Msehingga tahun 1326M dijadikan sebagai Ibukota Negara.

Kerajaan Usmani untuk masa beberapa abad masih dipandang sebagai Negara yang kuat terutama dalam bidang militer. Kemajuan-kemajuan kerajaan Usmani yaitu dalam bidang pemerintahan dan kemiliteran, bidang ilmu pengetahuan dan budaya misalnya kebudayaan Persia, Bizantium dan arab, pembangunan Masjid-Masjid Agung, sekolah-sekolah, rumah sakit, gedung, jembatan, saluran air villa dan pemandian umum dan di bidang keagamaan.misalnya seperti fatwa ulama yang menjadi hukum yang berlaku.

Kerajaan Usmani sepeninggal Sultan Al Qanuni, mengalami kemunduran yang disebabkan oleh berbagai problema sebagai berikut:

a. Penduduknya sangat heterogen

b. Tidak dapat menguasai wilayah yang luas

c. Kepemimpinannya lemah

d. Terjadinya dekadensi moral

e. Krisis ekonomi dan

f. Ilmu dan tekhnologi stagnan.

b. Kerajaan Safawi Di Persia

Kerajaan Syafawi, mulanya adalah sebuah gerakan tarekat yang berdiri di Ardabil (Azerbaijan). Tarekatnya bernama tarekat Safawiyah, nama ini diambil dari nama pendirinya yang bernama Safi-Al Din dan nama Syafawi dilestarikan setelah gerakannya berhasil mendirikan kerajaan.

Masa keemasan kerajaan Syafawi terjadi pada masa kepemimpinan Abbas Iyaitu di bidang pilitik, ekonomi, ilmu pengetahuan dan bidang pembangunan fisik dan seni. Kemajuan yang dicapainya membuat kerajaan Syafawi menjadi salah satu dari tiga kerajaan besar Islam yang diperhitungkan oleh lawan-lawannya terutama dibidang politik dan militer.

Setelah mengalami kejayaan, kerajaan Safawi tidak lama kemudian mengalami kemunduran penyebabnya adalah antara lain:

a. Kemerosotan moral para pemimpin kerajaan

b. Konflik yang berkepanjangan dengan kerajaan Usmani dan

c. Pasukan yang dibentuk Raja Abbas I yaitu pasukan Ghulam tidak memilikijiwapratirotik

c. Kerajaan Mughal di India

Kerajaan Mughal adalah kerajaan yang termuda diantara tiga kerajaan besar Islam. Kerajaan ini didirikan oleh Zahiruddin Babur (1482-1530). Babur dengan bantuan Raja Safawi dapat menaklukkan Samarkhad tahun 1494 M. Tahun 1504 M dapat menduduki Kabul ibukota Afganistan. Setelah itu, Raja Babur mengadakan ekspansi terus-menerus.

Kerajaan Mughal mencapai jaman keemasan semasa Raja Akbar, persoalan-persoalan dalam negeri dapat diatasi dengan baik dan mengadakan ekspansi sehingga dapat menguasai Chudar, Ghond, Chitor, Ranthabar, kalinjar, Gujarat, surat, Bihar, Bengal Orissa, Kashmir, Gawilgarth, Ahmadnagar, Narhala dan Ashirgah. Semua yang dikuasai kerajaan tersebut diperintah dalam suatu pemerintah militeristik.

Pada tahun 1858 M kerajaan Mughal juga mengalami kemerosotan, penyebabnya antara lain:

a. Kemerosotan moral dan para pejabatnya bermewah-mewahan

b. Pewaris kerajaan dalam kepemimpinannya sangat lemah dan Kekuatan mililernya juga lemah

C. Perkembangan Ilmu Pengetahuan Dan Kebudayaan Pada abad Pertengahan

Dibeberapa wilayah kekuasaan Islam pada abad pertengahan dalam ilmu pengetahuan dan kebudayaan mengalami perkembangan misalnya pada masa pemerintahan kerajaan Mongol dibangun sekolah-sekolah yang mengajarkan ilmu pengetahuan dan kebudayaan, filsafat, logika, geometri sejarah, geografi, matematika dan politik.

Di Mesir menjadi perkembangan ilmu pengetahuan seperti sejarah, astronomi, kedokteran, matematik dan ilmu-ilmu agama. Dalam ilmu sejarah tercatat nama-nama besar seperti Ibn Khalikan, Ibn Khaldun dan Ibn Taghribardi. Di bidang astronomi dikenal nama nasir Al din Al Tusi. Di bidang Matematika Abu Faraj Al ‘Ibry. Bidang kedokteran : Abu Al Hasan, Ali Al Nafis yaitu penemu susunan dan peredaran darah dalam paru-paru manusia. Abd. Al Mun’im Al dimyatthi dokter hewan dan Al Razi psikoterapi. 

D. Perkembangan Kebudayaan Islam Pada Abad Pertengahan

Perkembangan kebudayaan Islam timbul setelah diawali sederetan kebudayaan manusia dan seiring dengan sederetan kebudayaan setelahnya. Kebudayaan-kebudayaan Islam pada abad pertengahan yang menonjol diantaranya:

Dalam perkembangan arsitektur Islam berupa bangunan-bangunan Masjid yang indah seperti Masjid Al Muhammadi, Masjid Agung Sulaiman dan Masjid Abi Ayyub Al Anshari dengan hiasan-hiasan kaligrafi yang indah. Selain itu terdapat 235 bangunan dibangun dan dikoordinasi oleh Sinan, arsitek yang berasal dari Anatolia. Perkembangan kebudayaan Islam tersebut terjadi pada masa kerajaan Usmani.

Pada masa kerajaan Safawi telah berhasil membuat Isfahan menjadi ibukota dan kota yang indah yang terdiri dari bangunan-bangunan seperti masjid, rumah-rumah sakit, sekolah-sekolah, jembatan raksasa di atas Zende Rud, dan Istana Chihil Sutun, taman-taman wisata yang ditata dengan indah. Di Isfahan terdapat 162 masjid, 48 akademi, 1802 penginapan dan 273 pemandian umum. Dalam bidang seni, gaya arsitek bangunan-bangunannya sangat kentara, misalnya masjid Shah (1611 M dan masjid Syaikh Lutf Allah (1603 M. Unsur seni lainnya seperti kerajinan tangan, karpet, permadani, pakaian, keramik,tenunan, mode, tembikar, dan seni lukis.

Selain yang tersebut, perkembangan budaya Islam juga berkembang di kerajaan Mongol misalnya karya seni yang menonjol adalah karya sastra gubahan penyair istana, baik yang berbahasa Persia maupun India.

4. STUDI ISLAM MASA MODERN

Kata modern berasal dari kata “moderna” yang artinya “sekarang”. Istilah modern digunakan untuk suatu yang mengandung arti, pikiran, aliran, atau paradigma baru, yang mana istilah ini disesuaikan untuk suasana baru yang ditimbulkan oleh kemajuan, baik kemajuan ilmu pengetahuan maupun teknologi . Modernisasi di dunia Barat pada abad ke-17 membawa pembaharuan dibidang ilmu pengetahuan, tetapi Dunia Islam sendiri menunjukkan kemunduran yang progresif. Hal ini bisa terhenti karena pada abad ke-19, para pemikir Islam seperti Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Sayyed Ahmad Khan, Ameer Ali dan Muhammad Iqbal sadar akan kemunduran Islam dan memulai pergerakan dengan cara mereka masing-masing yang bertujuan untuk pembaharuan pandangan hidup Islam yang pada saat itu dikuasai oleh pemikiran Barat. 

1. Perkembangan Pemikiran Islam Pada Masa Modern

Munculnya pemikiran modern Islam didorong oleh munculnya kesadaran pembaharuan karena Islam cahaya Islam redup secara progresif pada saat kejayaan pemikiran barat, lahirnya masa Renaissance (masa pembaharuan) di Barat yang memunculkan pemikiran-pemikiran rasional-ilmiah yang melahirkan sains dan teknologi dan juga kondisi negara-negara Arab yang dikolonialisasi Barat, seperti Mesir dan Turki. Dengan adanya tiga latar belakang kesadaran pembaharuan ini, muncullah beberapa pemikir Islam yang memulai menghidupkan kembali pergerakan Islam.

2. Bidang Perkembangan Islam Pada Masa Modern

A. Bidang Akidah

Penggeraknya adalah Muhammad Abdul Wahab (1703-1787M) yang berasal dari Nejed, Saudi Arabia. Pemikiran Beliau bertujuan untuk memperbaiki kedudukan umat Islam yang didasari pada paham Tauhid yang pada saat itu telah tercampur aduk oleh ajaran tarekat. Pemikiran Muhammad Abdul Wahab adalah antara lain:

a. Hanya Al-Qur’an dan Hadits yang merupakan sumber asli ajaran Islam

b. Taklid kepada ulama yang dibenarkan

c. Pintu ijtihad selalu terbuka.

B. Bidang Ilmu Pengetahuan

Islam adalah agama yang mendukung perkembangan ilmu pengetahuan. Islam juga mengajarkan bahwa bagi siapa yang berilmu, harus tetap rendah hati dan jangan cepat puas dengan ilmu yang diperoleh, seperti Firman Allah dalam Q.S Al-Luqman ayat 27 yang artinya: “Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepada tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesunggunya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

Beberapa para pemikir Islam yang turut berkontribusi dalam kemajuan bidang ilmu pengetahuan dalam Islam, antara lain:

a. Jamaluddin Al-Afghani (1839-1897)

Menurut Jamaluddin, Islam adalah sebuah keyakinan tendensi Tuhan dan akal. Ijtihad adalah sesuatu yang dipelukan dan tugas manusia adalah mengamalkan prinsip-prinsip Al-Qur’an untuk mengatasi masalah berdasarkan zaman mereka. Jamaluddin berkata bahwa tidak perlu bagi seorang Muslim meniru orang Eropa, karena mereka tidak mungkin menjadi orang Eropa yang mana tingkah laku dan prinsip Eropa hanya dipahami bagi mereka orang Eropa. Ajaran Jamaluddin Al-Afghani ini banyak dianut oleh muslim Turki, Mesir dan India.

b. Muhammad Abduh (1849-1905) dan Muhammad Rasyid Ridha (1865-1935)

Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha mempunyai suatu hubungan guru dan murid. Rasyid Ridha menguasai bahasa Perancis dan Turki yang mana sebagai modalnya untuk mempelajari berbagai ilmu pengetahuan secara umum. Mereka berpendapat bahwa masuknya bid’ah kedalam ajaran agama Islam membuat manusia lupa akan ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya. Karena bid’ah itulah yang menjauhkan masyarakat Islam dari jalan yang sebenarnya.

  1. Toha Husein (1889-1973)

Toha Husein adalah seorang filsuf dan sejarawan yang merupakan pendukung modernisme. Menurut beliau, ilmu pengetahuan modern diadopsi tidak hanya penting dari sudut praktis saja, melainkan sebagai wujud suatu kebudayaan yang amat tinggi.

  1. Sayid Qutub (1906-1966) dan Yusuf Al-Qardawi

Yusuf Al-Qardawi menekankan bahwa modernisasi adalah upaya pembaratan yang memiliki batasan pada pemanfaatan ilmu pengetahuan serta tekonologi modern. Padangan ini bertahan hingga masa kini dikalangan muslim karena secara umum Islam adalah agama yang terbuka untuk menerima ilmu pengetahuan dan teknologi semakin maju pesat.

  1. Sayed Ahmad Khan (1817-1898)

Sir Sayed Ahmad Khan menyerukan kaum muslim untuk meraih ilmu pengetahuan modern melalui proses saintifikasi masyarakat muslim. Beliau melihat kekuatan yang membebaskan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang meliputi suatu peristiwa dengan sebab-sebabnya yang bersifat materiil yang mana di dunia Barat telah membebaskan orang dari tahayyul dan cengkraman dari kekuasaan gereja dan menurut Sir Sayed Ahmad Khan merasa wajib membebaskan kaum muslimin dengan cara melenyapkan unsur yang tidak ilmiah terhadap Al-Qur’an yang dilakukannya dengan menciptakan metode baru penafsiran Al-Qur’an.

  1. Muhammad Iqbal (1873-1938)

Sir Muhammad Iqbal adalah seorang Muslim pertama di India yang mendalami pemikiran barat modern dan mempunyai latar belakang pendidikan Islam. Dalam ajarannya, Beliau memaparkan kembali pemikiran Islam yang diperkenalkan kepada generasi muslim yang baru dengan menggunakan bahasa yang modern.

  1. Bidang Politik

Ide politik yang muncul pada masa Islam modern adalah Pan Islamisme atau Persatuan Islam dunia yang muncul sejak periode Muhammad Abdul Wahab dan diteruskan oleh Jamaluddin Al-Afghani (1839-1897). Menurut beliau, sebagai seorang Muslim harus menggerakkan semangat lokal dan semangat dari negera-negara Islam. gagasan nasionalisme dalam Pan Islamisme ini adalah aset utama umat Islam untuk berjuang atas keinginan mereka bebas dari cengkraman Barat.

1.     Perkembangan Peradaban Islam Pada Masa Modern

Bangsa Turki adalah bangsa yang menakjubkan, dimana dalam suatu negara, pernah ada dua dinasti yaitu Dinasti Saljuk dan Dinasti Usmani. Tetapi karena semakin banyak tanah jajahan Barat di negara-negara muslim, maka kerjaan Tukri Usmani runtuh. Pada saat ini buku-buku dalam bahasa Arab diterbitkan. Muhammad Ali Pasha juga mendirikan beberapa sekolah dan mempelajari berbagai ilmu pengetahuan. Karena sifat orang Turki yang ramah dan terbuka, membuat bangsa Turki mudah berasimilasi dengan kebudayaan lain. Islam adalah kekuatan yang penting bagi dunia ini karena berperan sebagai tonggak kebenaran dan kedamaian, dan juga membentuk kehidupan manusia didunia.

2.     Bidang-Bidang Peradaban Islam yang Berkembang Pada Masa Modern

  1. Bidang Arsitektur

Arab Saudi mengalami perkembangan dalam bidang arsitektur sangat pesat sekali seperti mempunyai maskapai dengan rute penerbangan internasional, pembangunan infrstruktur, jalan raya, rel kereta, di Iran juga mengalami perkembanagan dalam bidang arsitektur seperti berdirinya Istana Niavarand, Behesyti Zahra yang merupakan peninggalan Dinasti Qatar.

  1. Bidang Sastra

Pada masa pembaharuan Islam terdapat beberapa nama sastrawan dari berbagai negara seperti Muhammad Iqbal dari Pakistan, Lutfi Al-Manfaluti dari Mesir, Muhammad Husain Haikal dari Mesir dan juga Jamil Sidi Az-Zahawi yang berasal dari Irak.

  1. Bidang Kaligrafi

Pada masa Islam modern, berkembang juga seni kaligrafi yang biasa digunakan untuk hiasan rumah, masji atau yang lainnya yang berupa tulisan arab yang dipercantik dengan beberapa modifikasi bentuk dan warna yang indah yang biasanya ditulis diatas kertas, kulit, kayu, keramik dan lain sebagainya. 


Komentar

  1. Ditunggu karya-karya selanjutnya, semoga dapat senantiasa istiqomah

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Studi Islam