Studi Islam
Studi Islam
A. Pengertian
Studi Islam
Pengertian
secara bahasa dan istilah Istilah Studi Islam dalam bahasa Inggris adalah
Islamic Studies, dan dalam bahasa Arab adalah Dirasat al-Islamiyah1 . Studi
berasal dari bahasa Inggris study yang artinya mempelajari atau juga mengkaji,
dalam hal ini berarti pengkajian terhadap Islam baik itu sebagai sumber ajaran,
pengalaman atau pemahaman. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia studi bermakna
penelitian ilmiah, kajian, dan telaahan (KBBI,2008). Islam berasal dari bahasa
Arab, salima yang artinya selamat, berserah, tunduk dan aslama yang artinya
patuh, berserah dan ketundukan. Islam adalah agama yang disampaikan melalui
para Rasul Allah khususnya Rasulullah Muhammad SAW, untuk menjadi pedoman
manusia.
Ditinjau
dari sisi pengertian, Studi Islam secara sederhana dimaknai sebagai “kajian
islam”. Pengertian Studi Islam sebagai kajian islam sesungguhnya memiliki
cangkupan makna penertian yang luas. hal ini wajar adanya sebab sebuah istilah
akan memiliki makna tergantung kepada mereka yang menafsirkannya. Karena
penafsir memiliki latar belakang yang berbeda satu sama lainnya, baik latar
belakang studi, bidang keilmuan Pengalaman maupun berbagai perbedaan
lainnya,maka rumusan dan pemaknaanya yang di hasilkannya pun juga akan berbeda.
B.
Urgensi
Study Islam
Pelaksanaan
studi Islam menempati posisi urgen dan stategis dalam menciptakan situasi dan
kondisi masyarakat yang sejahtera, adil dan makmur. Karena pendidikan Islam
membimbing manusia dengan wahyu Ilahi, yang dapat membentuk pribadi yang
Islamiyah. Pendidikan Islam membawa manusia untuk belajar dan mengembangkan
segenap potensi yang dimiliki, baik jasmaniah dan rohamiah.
Permasalahan
yang sedang dihadapi oleh studi Islam saat ini adalah globalisasi dan modernisasi.
Banyak individu yang lebih memilih untuk mempelajari tentang modernisasi atau
hal populer dari pada pendidikan Islam. Pendidikan Islam sangat urgen bagi
manusia, karena pendidikan Islam adalah pegangan dalam kehidupan. Majunya
pendidikan Islam bukan hanya sekedar tujuan dari pendidikan Islam itu sendiri,
namun itu adalah keharusan bagi setiap insan.
Salah
satu prinsip fungsional menyatakan bahwa segala sesuatu yag tidak berfungsi
pasti akan lenyap dengan sendirinya. Karenanya agama islam dari dulu hingga
sekarang dengan tangguh menyatakan eksistensinya. Hal ini berarti bahwa agama
mempunyai dan memerankan sejumlah peran dan fungsinya di masyarakat.
C.
Ruang Lingkup Study Islam
Ruang lingkup Studi Islam sangat luas yaitu
mencakup segala aspek kehidupan manusia. Sehingga ruang lingkup nya meliputi
semua hal yang bisa dikaji dalam agama Islam, yaitu semua unsur dimuka bumi
ini. Selain itu juga meliputi semua aktivitas
yang dilakukan oleh manusia, seperti ibadah, kesenian, kebudayaan, sosial
politik, hubungan internasioanl, ilmu luar angkasa, biologi, fisika, dan juga
kesehatan. Sehingga Studi islam tidak hanya mengkaji hal-hal yang bertemakan
Islam saja seperti ibadah baik sholat, puasa dan haji atau hal-hal ghaib yang
sulit dipahami dengan logika, namun Studi Islam juga mengkaji sesuatu yang
dipahami masyarakat sebagai ilmu dunia.
Menurut
Amin Abdullah, pangkal tolak kesulitan pengembangan wilayah kajian studi Islam
berakar pada kesukaran seorang agamawan untuk membedakan antara yang
normativitas dan historisitas. Perbedaan dalam melihat Islam yang demikian itu
dapat menimbulkan perbedaan dalam menjelaskan Islam itu sendiri. Ketika Islam
dilihat dari sudut normatif, maka Islam merupakan agama yang di dalamnya berisi
ajaran Tuhan yang berkaitan dengan urusan akidah dan muamalah. Sedangkan ketika
Islam dilihat dari sudut historis atau sebagaimana yang nampak dalam
masyarakat, maka Islam tampil sebagai sebuah disiplin ilmu.
Namun
kenyataan Islam sekarang menampilkan keadaan yang jauh dari cita-cita ideal
tersebut. Ibadah yang dilakukan umat Islam seperti shalat,puasa, zakat, haji
dan sebagainya hanya berhenti pada sebatas membayar kewajiban dan menjadi
lambang kesalehan, sedangkan buah dari ibadah yang berdimensi kepedulian sosial
sudah kurang nampak. Akibat dari banyaknya kesalahpahaman dalam memahami
simbol-simbol keagamaan, agama lebih dihayati sebagai penyelamatan individu dan
bukan sebagai keberkahan sosial secara bersama.Diketahui bahwa Islam sebagai
agama yang memiliki banyak dimensi, yaitu mulai dari dimensi keimanan, akal
pikiran, ekonomi, politik, ilmu pengetahuan dan teknologi, lingkungan hidup,
sejarah, perdamaian, sampai pada kehidupan rumah tangga, dan masih banyak lagi
yang akan menimbulkan keberagamaan.
Komentar
Posting Komentar