Tauhid
A. Tauhid Sebagai Dasar Ideologi
Tauhid ialah suatu konsep dalam akidah Islam yang menyatakan ke-Esaan Allah. Tauhid memiliki fungsi vital dalam pemikiran umat Islam, dalam Lembaga-lembaga social politik Islam, dan dalam peradaban. Tauhid haruslah bermakna penyatuan atau kesatuan antara dimensi transenden (spiritual) dan social. Pada dasarnya dalam menjalani kehidupan, manusia sangat bergantung pada pola atau kerangka berpikir yang disebut pandangan dunia atau worldview. Menurut Murtadha Muthahari, pandangan dunia adalah dasar dari ideologi yang dianut oleh setiap individu dan golongan. Pandangan dunia bermetamoforsa dan membentuk ideologi sebagai keyakinan dan cita-cita yang dianut oleh kelompok tertentu. Ideologi adalah fitrah yang paling penting dan bernilai serta merupakan kesadaran diri yang istimewa dalam diri manusia.
Basis ontologis Tauhid wujud sebagai pandangan dunia adalah memandang semesta sebagai satu kesatuan, tidak terbagi atas dunia kini dan akhirat nanti, atas yang alamiah dan yang supra alamiah, atau jiwa dan raga. Untuk menjadikan Islam sebagai ideologi yang mampu dipraksiskan dalam kehidupan dan memberi implikasi yang positif bagi manusia. Tauhid tidak hanya sekedar pemahaman, Tauhid adalah sebuah ideologi pembebasan. Menurut Syari’ati kehidupan adalah kesatuan dalam trinitas tiga hipotesis, yaitu Tuhan, manusia, dan alam. Semua makhluk dan objek di alam semesta merupakan refleksi atas kebesaran Tuhan. Pandangan dunia Tauhid memberikan kelonggaran bagi manusia untuk mengembangkan kebebasannya, sehingga manusia bertanggung jawa terhadap setiap perbuatan yang dilakukannya. Pandangan dunia Tauhid juga memandang bahwa manusia sebagai insan yang memiliki kemerdekaan dan martabat yang sangat tinggi. Pandangan dunia Tauhid menuntut manusia hanya takut pada satu kekuatan, yaitu kekuatan Tuhan. Tauhid menjamin kebebasan manusia dan memuliakan hanya semata kepada-Nya.
B. Pengaruh Tauhid dalam Kehidupan Sehari-hari
Tauhid adalah akar dari keimanan seorang Muslim. Dengan tauhid yang kuat, maka seorang muslim akan mampu menjalankan proses penghambaannya kepada Allah tanpa merasa berat dan terpaksa, karena hanya satu tujuan mereka hidup yaitu keinginan mereka untuk bertemu dengan tuhannya Allah SWT. Implementasi penghambaan mutlak kepada Allah SWT tersebut terwujud dalam berbagai aspek kehidupan seorang muslim, mulai hubungan antara manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan manusia lainnya, serta hubungan manusia dengan alam. Ketiga hubungan tersebut akan terwujud secara selaras dan harmonis, karena memang itulah perintah Allah. Dengan mempunyai aqidah yang kuat, maka seluruh rintangan hidup dapat dilaluinya dengan baik dan ringan.
Berikut beberapa pengaruh tauhid dalam kehidupan sehari-hari:
1. Orang yang bertauhid dan beriman kepada Allah dan rasul-Nya pasti tahu mengapa Allah SWT menciptakannya sehingga ia berada di atas jalan yang lurus, ia mengetahui dari mana awal dan ke mana akhir hidupnya, jauh dari kebutaan dan kesesatan.
أَفَمَن يَمْشِي مُكِبًّا عَلَىٰ وَجْهِهِ أَهْدَىٰ أَمَّن يَمْشِي سَوِيًّا عَلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ﴿٢٢﴾
“Maka apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya itu lebih banyak mendapatkan petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus?” (QS. Al-Mulk: 22).
2. Tauhid menjadikan hati-hati manusia bersatu dengan Rabb yang satu, satu kitab, satu risalah, dan satu kiblat, dan iman juga menjadikan manusia saling mencintai dan bersaudara seperti firman Allah SWT :
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ﴿١٠﴾
“Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujuraat: 10).
3. Bila iman telah menyebar luas di masyarakat, maka pastilah akan membuahkan amal shalih yang diridhai Allah swt sehingga membuka berbagai pintu kebaikan dan mendatangkan pertolongan Allah dalam menghadapi musuh-musuh mereka.
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ﴿٩٦﴾
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, Pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raaf: 96)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7)
C. Hakikat Tauhid
Dalam konsep monoteisme Islam (tauhid) laa ilaaha illallah artinya Allah Swt adalah Segalanya, maka semua makhluk-Nya memiliki derajat yang sama. Sehingga tauhid membebaskan manusia dari penyembahan atau pemberhalaan “sesama manusia”, terhadap “sesuatu” dan “alam”. Prinsip tauhid dalam kalimat "Lailaha Illallah" oleh Yunahar Ilyas dalam bukunya Kuliah Aqidah Islam, adalah:
a. Laa khaliqa illallah, tidak ada yang maha menciptakan kecuali Allah.
b. Laa raziqa illallah, tidak ada yang maha memberi rezeki kecuali Allah.
c. Laa hafidza illallah, tidak ada yang maha memelihara kecuali Allah.
d. Laa mudabbira illallah, tidak ada yang maha mengelola kecuali Allah.
e. Laa malika illallah, tidak ada yang maha memiliki kecuali Allah.
f. Laa waliya illallah, tidak ada yang maha memimpin kecuali Allah
g. Laa hakima illallah, tidak ada yang maha menentukan kecuali Allah.
h. Laa ghayata illallah, tidak ada yang maha menjadi tujuan kecuali Allah.
i. Laa ma’buda illallah, tidak ada yang maha disembah kecuali Allah.
C. Macam-Macam Tauhid
1. Rububiyah
Rububiyah artinya beriman kepada Allah yang hanya satu-satunya Rabb yang memiliki, merencanakan, menciptakan, mengatur, memelihara, memberi rezeki, memberikan manfaat, menolak mudharat serta menjaga seluruh Alam Semesta. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
اَللّٰهُ خَا لِقُ كُلِّ شَيْءٍ ۙ وَّ هُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ وَّكِيْلٌ
“Allah Pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu.” (QS. Az-Zumar 39: Ayat 62)
Hal ini diakui oleh seluruh manusia, tidak ada seorang pun yang mengingkarinya. Orang-orang yang mengingkari hal ini, seperti kaum atheis, pada kenyataannya mereka menampakkan keingkarannya hanya karena kesombongan mereka. Padahal, jauh di dalam lubuk hati mereka, mereka mengakui bahwa tidaklah alam semesta ini terjadi kecuali ada yang membuat dan mengaturnya. Mereka hanyalah membohongi kata hati mereka sendiri. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
اَمْ خُلِقُوْا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ اَمْ هُمُ الْخٰلِقُوْنَ ۗ
D. Urgensi Tauhid
1. Tauhid Adalah Tujuan Manusia Diciptakan
Kaum Muslimin yang dirahmati oleh Allah, wajib bagi setiap Muslim untuk memprioritaskan tauhid daripada selainnya. Yaitu hendaknya kita mempersembahkan segala ibadah kepada Allah semata dan meninggalkan semua bentuk ibadah kepada selain Allah. Karena tujuan kita diciptakan oleh Allah di dunia ini adalah agar kita mentauhidkan-Nya. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku” (QS. Adz Dzariyat: 56).
Dan keselamatan seseorang di akhirat kelak ditentukan oleh tauhid. Orang yang mati dalam keadaan bertauhid, maka ia akan selamat di akhirat walaupun membawa dosa yang banyak. Adapun orang yang mati dalam keadaan musyrik, maka ia tidak akan selamat dan merugi selamanya. Allah Ta’ala berfirman:
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya hendaklah dia beramal shalih dan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya dalam beribadah kepada-Nya” (QS. Al Kahfi: 110).
Allah Ta’ala juga berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An Nisa’: 48).
2. Tauhid Adalah Syarat Diterimanya Amalan Kebaikan
Rabb pencipta dan pengatur alam semesta hanya satu, ialah Allah Ta’ala. Sesembahan yang berhak disembah juga hanya satu, ialah Allah Ta’ala. Dan Allah Ta’ala hanya menerima amalan kebaikan dari orang-orang yang bertauhid.
إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
“Sesungguhnya Allah hanya menerima amalan dari orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al Maidah: 27).
فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاء رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً
“Barangsiapa yang mengharapkan pertemuan dengan Rabb-Nya maka amalkanlah amalan kebaikan dan jangan mempersekutukan Rabb-nya dengan sesuatu apapun” (QS. Al Kahfi: 110)
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
“Tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk beribadah keada Allah semata dan mengikhlaskan amalan hanya kepada-Nya” (QS. Al Bayyinah: 5).
Orang-orang kafir dan musyrik, yang mereka tidak bertauhid, sebesar apapun amalan kebaikan mereka tidak akan diterima oleh Allah Ta’ala dan hanya menjadi debu-debu yang beterbangan.
وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاء مَّنثُوراً
“Dan kami persaksikan kepada mereka, bahwa amalan kebaikan yang mereka amalkan kami jadikan debu-debu yang beterbangan” (QS. Al Furqan: 23).
3. Tauhid Adalah Kunci Surga
Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:
من قال لا إله إلا الله صدقًا من قلبه دخل الجنة
“Barangsiapa yang mengatakan: tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah. Tulus dari hatinya, ia masuk surga” (HR. Abu Ya’la dalam Musnad-nya, 6/10).
Namun bukan sekedar pengucapan saja, melainkan juga disertai ilmu dan menjalankan konsekuensinya. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
مَن مات وهو يعلمُ أن لا إله إلا اللهُ دخل الجنةَ
“Barangsiapa yang mati dalam keadaan mengilmui bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah, ia masuk surga” (HR. Muslim no. 26).
Al Hasan Al Bashri rahimahullah ketika ia ditanya: “orang-orang mengatakan bahwa barangsiapa yang mengucapkan Laa ilaaha illallah pasti akan masuk surga”. Al Hasan berkata:
من قال « لا إله إلا الله » فأدَّى حقها وفرضها دخل الجنة
“barangsiapa yang mengucapkan Laa ilaaha illallah, lalu menunaikan hak dan kewajibannya (konsekuensinya), pasti akan masuk surga“ (diriwayatkan Al Asbahani dalam Al Hujjah fi Bayanil Mahajjah, 2/152. Dinukil dari Kalimatul Ikhlash Fadhluha wa Syurutuha, 502).
Al Hasan pernah berkata kepada Al Farazdaq, ketika ia menguburkan istrinya:
ما أعددتَ لهذا اليوم ؟ قال : شهادة أن لا إله إلا الله منذ سبعين سنة، فقال الحسن : “نعم العدة لكن لـِ « لا إله إلا الله » شروطاً ؛ فإياك وقذف المحصنات
“apa yang engkau persiapkan untuk hari ini (hari kematianmu kelak)? Al Farazdaq berkata: syahadat Laa ilaaha illallah sejak 70 tahun yang lalu. Lalu Al Hasan berkata: iya benar, itulah bekal. Namun Laa ilaaha illallah memiliki syarat-syarat. Maka hendaknya engkau jauhi perbuatan menuduh zina wanita yang baik-baik“ (Majmu’ Rasail Ibnu Rajab, 3/47).
Wahab bin Munabbih rahimahullah ditanya, “bukanlah kunci surga itu adalah Laa ilaaha illallah?”, ia menjawab:
بلى ؛ ولكن ما من مفتاح إلا له أسنان ، فإن أتيت بمفتاح له أسنان فُتح لك ، وإلا لم يُفتح لك ” ، يشير بالأسنان إلى شروط «لا إله إلا الله» الواجب التزامها على كل مكلف
“iya benar, namun setiap kunci itu pasti ada giginya. Jika engkau datang membawa kunci yang memiliki gigi, maka akan terbuka. Namun jika tidak ada giginya, maka tidak akan terbuka“.
Beliau mengisyaratkan gigi dari kunci untuk memaksudkan syarat-syarat Laa ilaaha illallah yang wajib dipegang teguh oleh setiap mukallaf.
Dari sini kita ketahui pentingnya mengilmui kalimat “Laa ilaaha illallah” dan mendakwahkannya. Dengan kata lain, pentingnya belajar tauhid dan mendakwahkannya.
4. Tauhid Adalah Inti Dakwah Para Nabi
Oleh karena itu Allah mengutus pada Nabi dan Rasul ‘alaihimussalam untuk menegakkan tauhid dan mendakwahkannya. Allah Ta’ala berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّ نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُونِ
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada Ilah (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah Aku olehmu sekalian” (QS. Al-Anbiya: 25).
Allah Ta’ala juga berfirman:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut’” (QS. An-Nahl: 36).
Dari Nabi dan Rasul yang pertama hingga yang terakhir, inti seruan mereka adalah mengajak manusia untuk mempersembahkan ibadah kepada Allah semata dan meninggalkan peribadatan kepada selain Allah.
Perhatikan apa yang didakwahkan Nabi Nuh ‘alaihissalam:
لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ
“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan (yang haq) bagimu selain-Nya“. Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat)” (QS. Al A’raf: 59).
Perhatikan apa yang didakwahkan Nabi Hud ‘alaihissalam:
وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلَا تَتَّقُونَ
“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum ‘Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan (yang haq) bagimu selain dari-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?”” (QS. Al A’raf: 65).
Perhatikan apa yang didakwahkan Nabi Shalih ‘alahissalam:
وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ قَدْ جَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ هَذِهِ نَاقَةُ اللَّهِ لَكُمْ آيَةً فَذَرُوهَا تَأْكُلْ فِي أَرْضِ اللَّهِ وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka Shaleh. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan (yang haq) bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih”” (QS. Al A’raf: 73).
Perhatikan apa yang didakwahkan Nabi Syu’aib ‘alahissalam:
وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ قَدْ جَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ فَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan (yang haq) bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman”” (QS. Al A’raf: 85).
Perhatikan apa yang didakwahkan Nabi Musa ‘alahissalam:
وَقَالَ الْمَلَأُ مِنْ قَوْمِ فِرْعَوْنَ أَتَذَرُ مُوسَى وَقَوْمَهُ لِيُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَيَذَرَكَ وَآلِهَتَكَ قَالَ سَنُقَتِّلُ أَبْنَاءَهُمْ وَنَسْتَحْيِي نِسَاءَهُمْ وَإِنَّا فَوْقَهُمْ قَاهِرُونَ
“Berkatalah pembesar-pembesar dari kaum Fir’aun (kepada Fir’aun): “Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkan kamu serta tuhan-tuhanmu?”. Fir’aun menjawab: “Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup perempuan-perempuan mereka; dan sesungguhnya kita berkuasa penuh di atas mereka”“(QS. Al A’raf: 127).
Perhatikan apa yang didakwahkan Nabi Ibrahim ‘alahissalam:
وَإِبْرَاهِيمَ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Dan ingatlah Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya, ‘Sembahlah olehmu Allah semata dan bertakwalah kepadaNya’” (QS.Al-Ankabut : 16).
Perhatikan apa yang didakwahkan Nabi Isa ‘alaihissalam:
مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ
“Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu“, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu” (QS. Al Maidah: 117).
Bahkan hingga Nabi kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah Ta’ala berfirman:
قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ
“Katakanlah (wahai Muhammad): ‘Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah semata dengan memurnikan semua ibadahnya hanya kepada-Nya” (QS. Az-Zumar : 11).
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوْا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَيُقِيْمُوا الصَّلاَةَ، وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ، فَإِذَا فَعَلُوْا ذَلِكَ عَصَمُوْا مِنِّيْ دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ اْلإِسْلاَمِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ تَعَالَى
“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, dan membayar zakat. Jika mereka melakukan hal ini semua, maka terlindungi darah dan harta mereka dariku, kecuali dengan hak Islam. Adapun perhitungan dosa mereka diserahkan pada Allah Ta’ala” (HR. Bukhari no.6924 dan Muslim no.21).
Demikianlah dakwah para Nabi dan Rasul ‘alahis shalatu was salaam, mereka mendakwahkan tauhid dan itulah inti dakwah mereka. Mereka mengajak manusia untuk menyembah Allah semata dan meninggalkan segala bentuk penyembahan kepada selain Allah.
5. Dakwah Tauhid Prioritas Utama
Dan mereka pun mengajarkan manhaj dakwah ini kepada para sahabatnya. Perhatikan apa yang diwasiatkan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam kepada Mu’adz bin Jabal ketika Mu’adz di utus untuk berdakwah di Yaman. Dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhuma ia berkata,
لَمَّا بَعَثَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – مُعَاذًا نَحْوَ الْيَمَنِ قَالَ لَهُ « إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى فَإِذَا عَرَفُوا ذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِى يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ ، فَإِذَا صَلُّوا فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ زَكَاةً فِى أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ غَنِيِّهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فَقِيرِهِمْ ، فَإِذَا أَقَرُّوا بِذَلِكَ فَخُذْ مِنْهُمْ وَتَوَقَّ كَرَائِمَ أَمْوَالِ النَّاسِ »
“Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz ke Yaman, Rasulullah bersabda padanya, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi sebuah kaum Ahlul Kitab. Maka hendaknya yang engkau dakwahkan pertama kali adalah agar mereka mentauhidkan Allah Ta’ala. Jika mereka telah memahami hal tersebut, maka kabarkan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan mereka shalat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka mengerjakan itu (shalat), maka kabarkan kepada mereka bahwa Allah juga telah mewajibkan bagi mereka untuk membayar zakat dari harta mereka, diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang-orang faqir. Jika mereka menyetujui hal itu (zakat), maka ambillah zakat harta mereka, namun jauhilah dari harta berharga yang mereka miliki” (HR. Bukhari no. 7372 dan Muslim no. 19).
Syaikh Shalih Al Fauzan menjelaskan, “dari hadits yang mulia ini, dan juga barangsiapa yang memperhatikan dakwah para Rasul yang disebutkan dalam Al Qur’an, dan juga barangsiapa yang memperhatikan sirah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, ia dapat memahami manhaj dakwah ilallah. Dan ia akan memahami bahwa yang pertama didakwahkan kepada manusia adalah aqidah, yaitu mengajak mereka menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukannya, serta meninggalkan semua ibadah kepada selain Allah, sebagaimana makna Laa ilaaha illallah” (Al Irsyad ilaa Shahihil I’tiqad, 17).
6. Berdakwah Namun Tidak Mendakwahkan Tauhid
Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan ditanya, “Fadhilatus syaikh, bagaimana pandangan anda mengenai sebagian da’i yang tidak mendakwahkan tauhid. Namun mereka hanya mendakwahkan akhlak mulia dalam mayoritas ceramah dan khutbah mereka”. Beliau menjawab:
“Dakwah yang demikian tidaklah bermanfaat sama sekali. Ini sebagaimana badan yang tidak ada kepalanya, maka ia menjadi mayit. Badan jika tidak ada kepalanya, maka bagian badan lainnya tidak bermanfaat. Dakwah yang tidak mendakwahkan tauhid, itu semisal dengan badan yang tidak ada kepalanya. Melelahkan namun tidak ada faidahnya.
Kalau ada orang yang baik akhlaknya, suka bersedekah, mengerjakan shalat, namun ia berbuat kesyirikan, tidak akan diterima semua amalannya. Karena yang membuat amalan menjadi sah adalah tauhid. Dan yang membatalkan amalan-amalan ialah syirik. Maka wajib kita memberikan perhatian pada dakwah tauhid ini.
Berdakwah tanpa dakwah tauhid, sama saja tidak berdakwah. Bahkan berdakwah tanpa dakwah tauhid, tidak adanya lebih baik daripada adanya. Karena ini memperdaya manusia, orang-orang mengira dakwah demikianlah yang benar.
Tidak ada Rasul yang tidak memulai dakwahnya dengan tauhid. Silakan anda perhatikan dakwah para Rasul, dari yang terdahulu hingga yang terakhir yaitu Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, mereka demikian (mendakwahkan tauhid)”
Dengan demikian sudah semestinya perkara tauhid adalah perkara yang paling penting bagi seorang Muslim. Seorang Muslim hendaknya terus berusaha mempelajarinya, mengamalkannya dan berusaha mati di atas tauhid.
E. Hal-Hal Yang Bertentangan Dengan Tauhid
Dalam merealisasikan tauhid dan memenuhi syarat-syarat kalimat "Laa ilaaha illallah, kita juga mesti berhati-hati terhadap segala bentuk syirik, pintu-pintu dan tempat-tempat masuknya, baik itu yang kecil maupun yang besar. Karena sesungguhnya sebesar-besar kedzaliman adalah syirik. Allah Ta'ala mengampuni semua dosa kecuali dosa syirik. Dan barangsiapa terjerumus kedalamnya, Allah haramkan baginya surga dan tempat kembalinya adalah neraka.
Berikut ini adalah beberapa hal yang harus kita waspadai karena bertentangan atau dapat merusak tauhid :
1. Memakai penangkal dengan tujuan menolak bala atau menghilangkan bala.
2. Mantera-mantera bid'ah dan jimat-jimat. Baik yang ada ungkapan (do'a) bid'ah yang tidak terdapat dalam Al-Qur'an dan sunnah, maupun yang terdapat dalam Al-Qur'an dan sunnah, karena hal ini dapat menjadi sarana menuju perbuatan syirik.
3. Meminta berkat (tabarruk) kepada seseorang atau mengusap-usap tubuhnya dan mengharapkan berkah daripadanya. Juga termasuk mencari berkat di pohon, batu, dan lain-lain. Bahkan Ka'bah dilarang mengusapnya dengan tujuan mencari berkah.
4. Menyembelih atas nama selain Allah, baik wali-wali, setan-setan ataupun jin, dengan maksud mengambil manfaat atau menghindarkan mudharat dari mereka. Ini adalah syirik besar.
5. Bernazar kepada selain Allah.
6. Meminta pertolongan kepada selain Allah. Rasulullah SAW berkata kepada Ibnu Abbas : "Apabila kamu meminta (sesuatu), maka mintalah (hanya) kepada Allah, dan apabila kamu meminta pertolongan, maka minta pertolongan lah (hanya) kepada Allah."
7. Sikap berlebihan (ghu-luw) kepada wali-wali dan orang-orang shaleh dengan memberikan mereka kedudukan lebih tinggi dari yang seharusnya. Misalnya dengan terlalu memuliakan mereka, menyamakan mereka dengan para rasul, atau berkeyakinan bahwa mereka orang yang mas'hum (terpelihara dari dosa)
8. Melakukan thawaf di kuburan. Tidak dibenarkan shalat di kuburan. Apalagi jika ditujukan untuk menyembah kuburan tersebut.
9. Memakai sihir, mendatangi tukang sihir, tukang tenung (dukun), paranormal (ahli nujum) dan sejenisnya.
10. Thiyarah (percaya kepada pertanda baik atau buruk). Yaitu merasa pesimis (sial) dengan pertanda burung, hari, bulan ataupun seseorang.
11. Mengantungkan harapan (nasib) kepada sebab (usaha), seperti mengantungkan nasib kepada dokter, pengobatan, pekerjaan, dan lain lain, tanpa menghiraukan sikap tawakkal kepada Allah.
12. Meramalkan kejadian yang akan datang atau hal-hal yang ghaib dengan perantaraan bintang-bintang.
13. Tidak merasa khawatir kepada azab Allah, atau berputus asa dari rahmat Allah.
14. Tidak sabar, jengkel dan tidak menerima ketentuan Allah. Misalnya berkata kata dengan ungkapan " Ya Allah, kenapa engkau lakukan ini padaku?" atau "Kenapa ini mesti terjadi ya Allah?". Termasuk juga dalam hal ini adalah meratapi orang meninggal.
15. Berbuat amal kebaikan karena Riya
16. Mengikuti ulama dan pemimpin dalam menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal. Ketaatan seperti ini termasuk perbuatan syirik.
17. Melukis gambar-gambar makhluk bernyawa, mengagungkan dan menggantungkan di dinding atau di tempat-tempat pertemuan dan sebagainya.
18. Bersumpah atas nama selain Allah. Rasullullah SAW bersabda : " Barang siapa yang bersumpah atas nama selain Allah, maka sesungguhnya ia telah kafir atau syirik." (HR. Tirmidzi).
F. Hal-Hal yang Dapat Merusak Tauhid
Sesungguhnya tauhid tertanam pada jiwa manusia secara fitroh. Namun asal fitroh ini dirusak oleh bujuk rayu syaithan yang memalingkan dari tauhid dan menjerumuskan ke dalam syirik. Para syaithan baik dari kalangan jin dan manusia bahu-membahu untuk menyesatkan umat dengan ucapan-ucapan yang indah. Tauhid adalah asal yang terdapat pada fitroh manusia sejak dilahirkan. Sedangkan kesyirikan adalah sesuatu yang mendatang dan merasuk ke dalam pikiran manusia (Sayuti, 2020).
Sikap tauhid merupakan sikap mental (hati), hati yang kurang stabil akan menyebabkan sikap ini mudah berubah-ubah. Oleh karena itu do'a yang dianjurkan agar selalu dibaca ialah: “Wahai Pembolak-balik hati, tetapkanlah hatiku atas agama-Mu, dan atas ta'at akan Dikau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku ini termasuk orang yang menzhalimi diriku.” Penyakit hati yang dapat merusak tauhid itu menurut ‘Imaduddin ‘Abdulrahim adalah riya, egois, takut dan bimbang, zalim serta dengki (Harahap, 2010).
1. Penyakit Riya’
Kesadaran atas kelemahan yang ada dalam diri kita sendiri sangatlah Kelemahan-kelemahan ini pun disinyalir oleh Allah swt. dalam Al-Quran sebagai peringatan bagi manusia. Contohnya:
“Sesungguhnya proses terjadinya manusia (membuatnya) tak stabil. Bila mendapat kegagalan lekas berputus asa. Bila mendapat kemenangan cepat menepuk dada.” (Q.70:19.21)
Ciri manusia seperti yang dikatakan Alquran ini membuat manusia senantiasa merasa cemas akan wujud dirinya. Pangkal dari sifat ini adalah persaan senang setiap manusia saat mendapat pengakuan atau pujian dari manusia lain. Mereka membutuhkan pengakuan dan pujian atau penghargaan dari orang lain dan hal ini sudah diperingatkan oleh baginda Rasulullah bahwa ria ini adalah syirik khafi (syirik kecil). Akan tetapi syirik ini rawan menjadi besar jika tidak terkontrol.
Awal mula sifat ini timbul sebabagi ‘ujub (perasaan heran atau kagum ata kehebatan diri sendiri). Jika pada saat berada di fase ini kita tidak segera menghapus perasaan itu, maka ia akan berkembang menjadi ria. Jika ria dibiarkan terus berkembang maka ia akan menjadi kibir atau takabur (membesarkan diri atau sombong). Inilah sifat Namrud dan Fir’aun yang sangat dibenci Allah swt. dan Rasulullah pernah bersabda :
“Tidak mungkin masuk surge seseorang yang punya penyakit kibir walaupun sebesar zarah” (Muslim dan Tirmidzi)
2. Penyakit Ananiah (Egoisme)
Sifat mementingkan diri atau egoisme memang sudah ada benihnya dalam setiap manusia. Hak mendahulukan diri ini pun diakui dan dibenarkan Allah swt. namun dalam batas dan tempat tertentu. Hak ini biasa disebut hak-hak pribadi atau privacy dan dianjurkan Allah agar disalurkan dalam usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah yang lebih banyak.
Selain itu kita diwajibkan untuk menghormati hak individu orang lain. Kita juga tidak bisa hidup sendiri di muka bumi ini. Manusia saling membutuhkan satu sama lain. Oleh karena itu Allah menciptakan hukum yang menentukan batas-batas pemenuhan kepentingan diri terhadap kepentingan bersama secara seimbang.
Orang yang belum stabil pribadinya akan cenderung mengabaikan hukum yang ditetapkan Allah ini demi memenuhi kebutuhan atas kestabilan pribadi. Sikap ananiah ini akan mendorongkan ke arah ekstrim sehingga secara tidak sadar mempertuhankan dirinya sendiri dan tentu saja menghancurkan tauhidnya.
3. Penyakit Takut dan Bimbang
Penyakit hati ini timbul akibat kurangnya keyakinan seseorang atas kemutlakan kekuasaan Allah swt. Di dalam bahasa Al-Qur’an orang seperti ini dikatakan orang yang tidak tawaqqal. Tawakal kepada Allah berarti mewakilkan nasib diri kepada Allah semata. Jika manusia yakin pada kekuasaan mutlak Allah swt, maka ia akan puas dengan menyerahkan diri kepada Allah saja. Namun jika manusia kurang yakin pada kemutlakan kekuasaan Allah swt, maka akan timbul perasaan bimbang. Kebimbangan ini bisa saja berkembang menjadi rasa takut terhadap perkata yang akan datang dan belum tentu akan benar terjadi.
Ketakutan dan kebimbangan adalah gejala jiwa yang kurang bertauhid dan sekaligus pertanda syirik. Satu-satunya cara untuk mengatasi rasa takut dan bimbang ini adalah dengan tawakkal pada Allah swt.
4. Penyakit Zhalim
Zhalim adalah meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya atau melakukan sesuatu yang tidak semestinya. Zhalim adalah lawan dari ‘adil yang berarti meletakkan sesuatu yang pantas pada tempatnya. Muslim yang bertindak berlawanan dengan sunnah Allah dikatakan zhalim walaupun dia masih seorang muslim. Kebiasaan bersikap zhalim akan menimbulkan akibat negative bagi dirinya dan lingkungannya. Pada akhirnya jika orang yang zhalim tidak segera taubat maka ia akan menjadi kufur juga. Oleh karena itu sifat zhalim sangat dibenci oleh Allah.
Bertindak zhalim berarti mendekatkan diri kepada kekufuran karena tindakan itu telah menandingi hak Allah sebagai satu-satunya Yang Berhak bertindak menurut iradah-Nya tanpa perlu mengenggang yang lain. Tindakan menandingi hak Allah ini yang berlawanan dengan tauhid.
5. Penyakit Hasad (Dengki)
Penyakit ini tumbuh dalam hati seseorang jika ia tidak senang terhadap keberhasilan orang lain. Sifat ini biasanya dimulai dari sifat yang menganggap diri sendiri paling hebat dan tidak ada yang boleh menandinginya. Hal ini bertentangan dengan tauhid karena dengan mentauhidkan Allah, seseorang bisa merasakan bahwa semua makhluk Allah memiliki kedudukan yang sama di hadapanNya. Hanya Allah yang dapat menentukan kriteria apabila ada manusia yang lebih tinggi derajatnya. Di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa kelebihan manusia dengan manusia lainnya hanya ditentukan oleh ketaqwaan manusia tersebut.
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu ialah yang paling bertaqwa, sesungguhnya hanya Allah Yang Maha Mengetahui, Maha Sadar.” (QS. 49:13)
Komentar
Posting Komentar